Kamis, 22 Maret 2012

Terbatasnya Bankir Hambat Perkembangan Bank Syariah

Selasa, 30 Maret 2010 04:13 WIB

JAKARTA--Lambannya perkembangan perbankan syariah di Indonesia dikarenakan adanya tiga hal utama, yakni kurangnya sumber daya manusia (SDM), produk dan informasi tekhnologi (IT).

Demikian disampaikan oleh Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad saat ditemui di gedung Bank Indonesia, Senin (29/3). "Fokus saya mengembangakan SDM, produk dan jaringan atau IT pada perbankan syariah. Untuk itu, kami akan melakukan kolaborasi atas ketiga masalah utama ini," katanya.

Muliaman mengakui saat ini ketersediaan SDM perbankan syariah masih terbilang langka. Hal ini diakibatkan masih kurangnya sosialisasi dalam memahami syariah dan membaca prospek atau potensi syariah ke depan.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah melakukan percepatan usaha profesionalsime bersama dengan membentuk lembaga tersendiri untuk mendukung ketersediaan bankir syariah dalam 5-10 tahun ke depan. "Blue print perbankan syariah itu sudah dibuat, tapi untuk saat ini masih masa pengenalan dan sosialisasi," ungkap Muliaman.

Senada dengan Muliaman, Direktur Utama Bank Bukopin Syariah Riyanto mengamini masih banyaknya kendala untuk mengembangkan perbankan syariah di dalam negeri. Untuk itu, Bukopin Syariah dan perbankan lainnya mengusulkan supaya bobot risiko dalam perhitungan Aset Tertimbang Menurut Resiko (ATMR).

"Sekarang itu kan perhitungannya sama dengan perbankan konvensional. Jadi, kami ingin pemerintah berikan insentif agar syariah lebih berkembang. Dengan begitu langkah ekspansi kita akan lebih besar jika ATMR dilonggarkan," ujar Riyanto.

Selain itu, ia berharap produk syariah ke depannya memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan produk perbanka konvensional. Namun, Riyanto menyadari ini memerlukan pengembangan yang lebih mendalam lagi. Belum lagi, lanjutnya, terbentur dengan beberapa produk dari perbankan konvensional.

Secara keseluruhan, Muliaman membaca potensi perkembangan perbankan syariah di Indonesia sangat besar. Apalagi, menurutnya, saat ini masih banyak pasar yang belum digarap. Market share syariah juga masih belum mencapai lima persen seperti yang ditargetkan. "Makanya banyak sekali pihak yang ingin menggarap perbankan syariah di sini, mulai dari lokal hingga pihak asing. Sebut saja dari Hongkong dan London," paparnya.

Tidak lupa, Muliaman juga berpesan agar perbankan syariah jangan dianggaps ebagai ancaman atau residual. Ia meminta para pemilik bank agar menunjukkan komitmennya secara nyata apa tujuan dasar pembentukan unit usaha syariahnya. "itu keliru kalau bilang sebagai ancaman," tandasnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar